Wikipedia
Hasil penelusuran
Minggu, 27 Desember 2015
dasar islam
Arti Islam
"Sesungguhnya agama di sisi Allâh hanyalah Islam" (QS Ali Imran 19)
Secara harfiah, kata Islam memiliki arti :
1. Taat atau berserah diri (kepada Allâh)
2. Damai dan kasih sayang
3. Selamat
Secara umum, Islam adalah agama yang dianugerahkan Allâh kepada umat manusia, dengan perantaraan pada nabi dan rasul Allâh sejak rasul pertama Adam as hingga rasul terakhir Muhammad saw.
Sebagai konsekuensinya, penganut Islam haruslah mengakui ajaran final Islam seperti yang diajarkan melalui Muhammad saw.
Untuk menjadi Islam, kita harus mengikrarkan kalimah syahadat, yaitu kalimat persaksian sebagai berikut :
Asyhadu An-Laa Ilaaha Illallâh.
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allâh.
Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad (saw) adalah utusan Allâh.
Kalimah syahadat adalah satu dari lima Rukun Islam. Rukun Islam adalah hal-hal yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam dengan syarat-syarat tertentu. Selengkapnya, Rukun Islam adalah :
1. Mengikrarkan Kalimah Syahadat
2. Mendirikan Shalat
3. Mengeluarkan Zakat
4. Melaksanakan Shaum / Puasa
5. Menunaikan Hajji
Di samping Rukun Islam, dikenal juga Rukun Iman. Rukun Iman adalah hal-hal yang wajib diyakini oleh umat Islam sebagai bagian dari ajaran agama Islam. Selengkapnya, Rukun Iman adalah :
1. Iman kepada Allâh
2. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allâh
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allâh
4. Iman kepada Rasul-Rasul Allâh
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada Qadha dan Qadar Allâh
Tentang Allâh
"Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun." (QS Al-Ikhlash 1-4)
Kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, tidak akan mudah menulis "Allâh adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allâh. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat terbatas ini. Semua kata yang dilekatkan pada Allâh harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu.
Allâh adalah pencipta dan penguasa alam yang abadi dan alam yang fana. Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian, Allâh Maha Tinggi. Tapi juga Allâh Maha Dekat. Allâh Maka Kuasa. Tapi juga Allâh Maha Pengasih dan Penyayang. Sifat-sifat Allâh dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama yang baik.
"Dialah Allâh. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki Asmaaul Husna." (QS Thaha 8)
Dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, Asmaaul Husna itu meliputi:
1. Ar Rahman, Maha Pengasih
2. Ar Rahiim, Maha Penyayang
3. Al Malik, Maha Merajai/Memerintah
4. Al Quddus, Maha Suci
5. As Salaam, Maha Memberi Kesejahteraan
6. Al Mu`min, Yang Memberi Keamanan
7. Al Muhaimin, Maha Pemelihara
8. Al Aziiz, Maha Gagah
9. Al Jabbar, Maha Perkasa
10. Al Mutakabbir, Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11. Al Khalik, Maha Pencipta
12. Al Baari`, Yang Melepaskan [Membentuk, Menyeimbangkan]
13. Al Mushawwir, Yang Membentuk Rupa (makhluknya)
14. Al Ghaffaar, Maha Pengampun
15. Al Qahhaar, Yang Memaksa
16. Al Wahhaab, Maha Pemberi Karunia
17. Ar Razzaaq, Maha Pemberi Rizqi
18. Al Fattaah, Maha Pembuka Rahmat
19. Al `Aliim, Maha Ilmu
20. Al Qaabidh, Yang Menyempitkan (makhluknya)
21. Al Baasith, Yang Melapangkan (makhluknya)
22. Al Khaafidh, Yang Merendahkan (makhluknya)
23. Ar Raafi`, Yang Meninggikan (makhluknya)
24. Al Mu`izz, Yang Memuliakan (makhluknya)
25. Al Mudzil, Yang Menghinakan (makhluknya)
26. Al Samii`, Maha Mendengar
27. Al Bashiir, Maha Melihat
28. Al Hakam, Maha Menetapkan
29. Al `Adl, Maha Adil
30. Al Lathiif, Maha Lembut
31. Al Khabiir, Maha Mengetahui Rahasia
32. Al Haliim, Maha Penyantun
33. Al Azhiim, Maha Agung
34. Al Ghafuur, Maha Pengampun
35. As Syakuur, Maha Pembalas Budi
36. Al `Aliy, Maha Tinggi
37. Al Kabiir, Maha Besar
38. Al Hafizh, Maha Menjaga
39. Al Muqiit, Maha Pemberi Kecukupan
40. Al Hasiib, Maha Membuat Perhitungan
41. Al Jaliil, Maha Mulia
42. Al Kariim, Maha Pemurah
43. Ar Raqiib, Maha Mengawasi
44. Al Mujiib, Maha Mengabulkan
45. Al Waasi`, Maha Luas
46. Al Hakiim, Maka Bijaksana
47. Al Waduud, Maha Pencinta
48. Al Majiid, Maha Mulia
49. Al Baa`its, Maha Membangkitkan
50. As Syahiid, Maha Menyaksikan
51. Al Haqqu, Maha Benar
52. Al Wakiil, Maha Memelihara
53. Al Qawiyyu, Maha Kuat
54. Al Matiin, Maha Kokoh
55. Al Waliyy, Maha Melindungi
56. Al Hamiid, Maha Terpuji
57. Al Mushil, Maha Mengkalkulasi
58. Al Mubdi`, Maha Memulai
59. Al Mu`iid, Maha Mengembalikan Kehidupan
60. Al Muhyii, Maha Menghidupkan
61. Al Mumiitu, Maha Mematikan
62. Al Hayyu, Maha Hidup
63. Al Qayyuum, Maha Mandiri
64. Al Waajid, Maha Penemu
65. Al Maajid, Maha Mulia
66. Al Wahiid, Maha Esa
67. Al Ahad, Maha Esa
68. As Shamad, Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69. Al Qaadir, Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70. Al Muqtadir, Maha Berkuasa
71. Al Muqaddim, Maha Mendahulukan
72. Al Mu`akkhir, Maha Mengakhirkan
73. Al Awwal, Maha Awal
74. Al Aakhir, Maha Akhir
75. Az Zhaahir, Maha Nyata
76. Al Baathin, Maha Ghaib
77. Al Waali, Maha Memerintah
78. Al Muta`aalii, Maha Tinggi
79. Al Barri, Maha Penderma
80. At Tawwaab, Maha Penerima Tobat
81. Al Muntaqim, Maha Penyiksa
82. Al Afuww, Maha Pemaaf
83. Ar Ra`uuf, Maha Pengasih
84. Malikul Mulk, Penguasa Kerajaan (Semesta)
85. Dzul Jalaali Wal Ikraam, Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86. Al Muqsith, Maha Adil
87. Al Jamii`, Maha Mengumpulkan
88. Al Ghaniyy, Maha Berkecukupan
89. Al Mughnii, Maha Memberi Kekayaan
90. Al Maani, Maha Mencegah
91. Ad Dhaar, Maha Memberi Derita
92. An Nafii`, Maha Memberi Manfaat
93. An Nuur, Maha Cahaya
94. Al Haadii, Maha Pemberi Petunjuk
95. Al Baadii, Maha Pencipta
96. Al Baaqii, Maha Kekal
97. Al Waarits, Maha Pewaris
98. Ar Rasyiid, Maha Pandai
99. As Shabuur, Maha Sabar
Mengimani sifat-sifat Allâh ini wajib. Dampaknya, menurut Abul A`la Maududi adalah:
1. Menghilangkan pandangan yang sempit, picik, suram
2. Menanamkan kepercayaan diri
3. Menumbuhkan sifat rendah hati, damai, dan ikhlas
4. Membentuk sikap luhur, kesatria, teguh, tabah, sabar, optimis
5. Mengembangkan kepatuhan pada peraturan Allâh
Malaikat-malaikat
Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya.
Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :
1. Jibril (Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel). Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh.
2. Mikail (Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia.
3. Izrail (Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk.
4. Israfil. Meniup sangkakala pertanda hari kiamat.
5. Raqib. Mencatat amal baik manusia.
6. Atid. Mencatat amal buruk manusia.
7. Munkar dan
8. Nakir. Menanyai manusia yang baru wafat.
9. Ridwan. Menjaga surga.
10. Malik. Menjaga neraka.
Nabi dan Rasul Allâh
Nabi-nabi adalah manusia biasa, yang dipilih Allâh untuk dapat menerima wahyu Allâh. Wahyu adalah bentuk komunikasi verbal yang dilakukan Allâh dengan manusia. Wahyu diturunkan untuk mengatur sejarah dan perilaku umat manusia.
Rasul adalah nabi yang menerima wahyu dari Allâh untuk disampaikan kepada umat manusia tempat dia diutuskan. Sesuai perintah Allâh, beberapa wahyu ditujukan untuk sekelompok masyarakat tertentu, dan beberapa wahyu ditujukan untuk seluruh umat manusia. Beberapa wahyu dihimpun dalam shuhuf-shuhuf atau kitab-kitab suci.
Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa banyak manusia yang diangkat menjadi nabi atau rasul. Namun secara khusus, disebutkan hanya ada 25 rasul yang wajib diyakini oleh umat Islam, yaitu :
1. Adam as
2. Idris as (Akhnukh, Enoch)
3. Nuh as (Noah)
4. Hud as
5. Shaleh as
6. Ibrahim as (Abraham)
7. Ismail as (Ishmael)
8. Luth as (Lot, Lod)
9. Ishaq as (Izaak, Isaac)
10. Ya'qub as (Jacob, Israil)
11. Yusuf as (Joseph)
12. Syu`aib as
13. Ayyub as (Job)
14. Dzulkifli as (Ezekiel)
15. Musa as (Moses)
16. Harun as (Aaron)
17. Daud as (David)
18. Sulaiman as (Solomon)
19. Ilyas as (Elias)
20. Ilyasa` as (Elisha)
21. Yunus as (Yunan, Jonah)
22. Zakaria as (Zachariya)
23. Yahya as (Yohannes, John)
24. Isa as (Yeshua, Jesus)
25. Muhammad saw
Setelah menyebutkan nama nabi, umat Islam selalu memberikan salam alaihis-salaam yang berarti keselamatan atasnya. Khusus untuk nabi Muhammad saw, umat Islam memberikan salam shalallâhu alaihi wassalaam yang berarti rahmat Allâh dan keselamatan atasnya.
Lima orang nabi, yaitu Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan Muhammad saw, digelari ulul azmi, karena perjuangan mereka menuntut keteguhan dan ketabahan luar biasa.
Dalam ajaran Islam, kadang disebutkan juga nama nabi-nabi penerima wahtu yang lain, seperti Syits yang menerima shuhuf, Khidir yang membimbing Musa, dan juga beberapa tokoh perempuan: Hawa istri Adam, Hajar istri Ibrahim, Yuhanids ibu Musa, dan Maryam ibu Isa. Juga disebutkan tokoh-tokoh lain yang patut diteladani, seperti Luqman dan Dzulkarnain. Seluruh nabi dan rasul Allâh membawa satu risalah, yaitu ajaran Islam dari Allâh. Ajaran Islam ini telah disempurnakan pada masa kerasulan Muhammad saw dengan kitab suci Al-Qur`an. Pada masa ini, Allâh memfirmankan telah sempurnanya Islam, dan telah diridlai Islam untuk seluruh umat manusia.
Tidak ada dan tidak akan ada lagi nabi, rasul, dan kitab suci sesudahnya.
Muhammad S.A.W.
"Tiadalah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat manusia, membawa kabar gembira, dan memberi peringatan. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti." (QS Saba` 28)
Kota Makkah, di jazirah Arab. Tempat di mana Nabi Ibrahim as pernah membangun kembali sebuah bangunan dinamai Ka`bah. Setelah sekian ratus tahun, ajaran Ibrahim as di daerah ini mulai pupus. Kepercayaan akan Allâh digabungkan dengan kepercayaan berhala dan politheisme (yang menyebar di Eropa, Persia, hingga India).
Muhammad (saw) dilahirkan di kota Makkah, tahun 571M, kira-kira pada tanggal 12 Rabiul Awal atau 20 April, sebagai seorang yatim. Almarhum ayahnya bernama Abdullâh, sedangkan ibunya bernama Aminah. Pada usia 6 tahun, Muhammad (saw) menjadi yatim piatu ketika ibunya pun meninggal. Muhammad (saw) dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib, sampai kakeknya itu pun meninggal, kemudian Muhammad (saw) tinggal bersama pamannya, Abu Thalib.
Muhammad (saw) tumbuh sebagai pribadi dengan sifat kepemimpinan, cerdas, berdaya ingat kuat, rendah hati, lembut, serta jujur dan benar perkataannya, sehingga pernah digelari Al-Amin (yang dapat dipercaya). Pamannya mendidiknya menjadi pedagang yang cakap, berdagang ke negeri-negeri utara (Syams, sekarang Syuriah).
Pada usia 25 tahun, Muhammad (saw) menikah dengan Khadijah. Keluarga Muhammad (saw) adalah keluarga yang terpandang. Perekonomian maju karena perdagangan yang berhasil, dan pribadinya terkenal karena kelurusannya.
Pada usia 40 tahun, Muhammad (saw) menerima wahyu Allâh yang pertama, saat sedang berkhalwat di gua Hiro`. Wahyu yang pertama diterima adalah 5 ayat berikut yang diterima dengan perantaraan malaikat Jibril:
Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan.
Dia menciptakan manusia dari gumpalan.
Bacalah; Dan Rabb-mu Maha Pemurah.
Dia mengajarkan dengan pena.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.
(QS Al-`Alaq 96:1-5)
Kemudian Jibril menampakkan dirinya di seluruh ufuk. Muhammad (saw) pulang, terkejut, kedinginan. Khadijah menyelimutinya, menghiburnya. Beberapa saat kemudian, turunlah wahyu berikutnya:
Hai orang berselimut ! Bangun ! Dan sampaikan peringatan.
Dan Rabb-mu, agungkanlah.
Dan pakaianmu, sucikanlah.
Dan dosa-dosa, tinggalkanlah.
Jangan memberi untuk menerima lebih banyak.
Dan demi Rabb-mu, tabahlah !
(QS Al-Mudatsir 74:1-7)
Maka Muhammad (saw) pun mulai mengajarkan ajaran Islam kepada orang-orang disekitarnya. Ajaran tentang Allâh, bukan tuhan-tuhan dan berhala-berhala. Ajaran tentang kejujuran, bukan dusta dan kemunafikan. Namun di masyarakat saat itu, berhala yang 'nyata' masih menjadi simbol pemersatu, sehingga ajaran tentang Allâh yang tak berwujud, tak berkesetaraan, dipandang sebagai pengacau masyarakat.
Muhammad (saw) masih menunggu wahyu lebih lanjut. Namun hingga beberapa waktu kemudian, wahyu tidak datang lagi. Muhammad (saw) menjadi resah. Sekian waktu kemudian barulah diturunkan wahyu berikutnya:
Demi pagi yang cerah. Dan demi malam yang kelam.
Rabb-mu tidak pernah meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu.
Akhir akan lebih baik daripada awal.
Dan Rabb-mu mengaruniaimu sehingga kamu ridha.
Bukankah Aku mendapatimu sebagai yatim, kemudian menuntunmu.
Bukankah Aku menemukanmu kebingungan, kemudian menunjukimu.
Bukankah Aku menemuimu kekurangan, kemudian mencukupimu.
Maka kepada yatim, jangan sewenang-wenang.
Kepada yang meminta, jangan mengusir.
Dan karunia Rabb-mu, sebarkanlah.
(QS Ad-Dhuha 93:1-11)
Muhammad (saw) mulai mengajarkan Islam kepada istrinya, Khadijah, kemudian kepada sepupunya, Ali b Abi Thalib, dan seorang bekas budak, Zaid b Haritsa. Berikutnya, turut Islam pula Abu Bakar b Abi Quhafa, sahabat Muhammad (saw). Abu Bakar mengajak pula Utsman b Affan, Abdurrahman b `Auf, Talha b `Ubaidillâh, Sa`d b Abi Waqqash, dan Zubair b Al-`Awwam. Berikutnya berislam juga beberapa penduduk Makkah lain. Penganut Islam disebut Muslim. Saat itu, umat Islam sudah mulai melakukan ibadah bersama, tetapi masih sembunyi-sembunyi. Iman diperkuat oleh wahyu-wahyu Allâh yang turun berikutnya, dan juga oleh akhlak Nabi Muhammad (saw). Namun mayoritas penduduk Makkah masih menentang ajaran baru ini.
Pertentangan dengan penduduk Makkah, berikutnya menghasilkan pengucilan terhadap muslim, siksaan-siksaan fisik hingga pembunuhan, boikot berkepanjangan, dan akhirnya juga rencana makar. Beberapa dari umat muslim terpaksa berpindah ke negeri-negeri lain. Namun sementara itu, ajaran Islam juga mulai menjejak ke kota-kota di sekitar Makkah.
Atas perintah Allâh, Rasulullâh (saw) memutuskan untuk memindahkan basis perjuangan sementara ke Yatsrib. Ini yang disebut peristiwa hijrah.
Di Yatsrib, Rasulullâh (saw) mengkonsolidasikan masyarakat majemuk multietnik multiagama, berdasar peraturan bersama. Peraturan itu kelak disebut Konstitusi Madinah. Madinah adalah nama yang kelak diberikan umat Islam bagi kota Yatsrib.
Beberapa pengikut Rasulullâh (saw) mulai mengusulkan dilakukannya perang. Namun Rasulullâh (saw) menolak. Memang kemudian akhirnya Rasulullâh (saw) melakukan peperangan. Namun peperangan yang dilakukan Rasulullâh (saw) selalu atas nama perintah Allâh, ditegakkannya peraturan dan perjanjian, serta dilaksanakannya kebebasan beragama.
Perang pertama dilakukan di Badr. Saat itu penguasa Makkah yang anti Islam bersiap menyerbu kekuatan muslim di Madinah, dan di saat yang bersamaan sebagian orang Yahudi di Madinah berkampanye untuk mengusir umat muslim. Titik perang antara kafir Makkah melawan muslim terjadi di Badr. Sukarelawan muslim berjumlah 313 orang menghadapi 1000 orang kafir Makkah. Namun atas pertolongan Allâh, perang ini dimenangkan umat muslim.
Perang berikutnya terjadi di bukit Uhud. Pada perang ini, kampanye Yahudi berhasil melemahkan kekuatan sebagian pasukan muslim. 700 sukarelawan muslim menghadapi 3000 orang kafir Makkah. Di akhir pertempuran, kaum kafir dapat mengalahkan umat muslim yang mulai tidak berdisiplin. Berikutnya terjadi beberapa kali peperangan. Pada perang Khandaq, kekuatan Yahudi bergabung dengan kafir Makkah. Perimbangan 2000 di pihak muslim melawan 10000 di pihak lawan. Namun pihak muslim menyusun strategi dengan membangun parit perlindungan. Perang ini dimenangkan pihak muslim.
Setelah jelas bahwa umat muslim kuat untuk bertahan, pada tahun ke-6 setelah hijrah, Rasulullâh (saw) melakukan kunjungan ke Makkah dengan 1400 umat muslim untuk melakukan ibadah umrah di Masjidil Haram. Reputasi umat Rasulullâh (saw) cukup bagi kafir Makkah untuk tidak melakukan adu senjata. Alih-alih, mereka mengusulkan perjanjian damai. Dalam perjanjian di Hudaibiyah itu disebutkan bahwa umat muslim harus kembali ke Madinah, tetapi di tahun berikutnya, umat-umat muslim dapat masuk ke kota Makkah tanpa gangguan. Perjanjian itu juga menyebutkan bahwa dalam interaksi antara umat muslim dengan penduduk Makkah, umat muslim boleh membelot, tetapi penduduk Makkah tidak boleh membelot, sementara pihak-pihak di luar dapat melakukan persekutuan dengan umat muslim atau dengan penguasa Makkah tanpa masalah. Nampaknya merugikan bagi Islam. Namun bagaimanapun, inilah saat pertama kali penguasa Makkah mengakui eksistensi 'Islam' sebagai agama 'yang lain', dan bukan kelompok pemberontak semata. Maka kembalilah pasukan muslim ke Madinah.
Bagaimanapun kaum kafir tetap sadar bahwa interaksi antara umat muslim akan melemahkan agama penduduk Makkah. Hingga dua tahun setelah perjanjian itu, jumlah umat Islam telah berlipat ganda di seluruh jazirah Arab. Meluasnya pengaruh Islam juga telah menimbulkan beberapa insiden dengan penguasa Romawi di utara. Pada saat itu, penguasa Makkah melanggar perjanjian. Akibatnya, pada tahun berikutnya, Rasulullâh (saw) kembali menggelar pasukan ke Makkah. Dengan hanya insiden-insiden kecil, Makkah dapat dikuasai oleh umat muslim. Dan pada hari itu Rasulullâh (saw) langsung mengumumkan amnesti massal bagi musuh-musuhnya di Makkah, selama tidak melakukan perlawanan.
Interaksi tanpa paksaan antara agama yang benar dengan ajaran irasional akan mengembalikan fitrah manusia kepada kebenaran. Maka banyaklah warga Makkah yang masuk Islam, termasuk mereka yang tadinya memusuhi Islam dengan keras.
Rasulullâh (saw) menjadi tokoh yang penting. Namun demikian, ia tetap berlaku sebagai manusia yang sangat sederhana. Tidur hanya di atas tanah yang berlapis daun-daunan, di dalam gubuk yang sangat kecil. Namun ia tidak miskin. Pada waktu-waktu tertentu, Rasulullâh (saw) menyembelih ternak yang cukup mahal sebagai qurban, dan dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin. Sahabatnya sering menangis melihat kesederhanaan Rasulullâh (saw). Tetapi kaum papa menghormati sikap hidupnya dan kedekatannya pada mereka.
Rasulullâh (saw) wafat pada 12 Rabiul Awal, 23 tahun setelah kerasulan. Namun hingga hari ini, namanya selalu disebut setiap umat muslim setiap hari. Sabdanya dibahas tuntas. Perilakunya ditiru umat muslim yang shalih. Bagi umat muslim, Rasulullâh, Muhammad saw, tidak pernah meninggalkan dunia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar