Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 27 Desember 2015

teori big bang

Bisakah Terjadi ”Big Bang” Ketiga Kalinya? Oleh DR. K.H. AMINUDDIN SHALEH SEKIRA 15 miliar tahun yang lalu telah terjadi sebuah ledakan besar yang merupakan cikal bakal terjadinya alam semesta. Dari ledakan tersebut, berkembang alam semesta sehingga menjadi seperti sekarang ini, sebuah tatanan yang teramat sempurna, sangat dahsyat, juga sangat teratur yang tentunya sebagai orang beriman kita menyakini ada zat Mahacerds lagi Mahasempurna yang memungkinkan semua itu terjadi. Para Ilmuwan menyebut ledakan besar tersebut dengan sebutan big bang. Ternyata ledakan besar yang diperkirakan terjadi 15 miliar tahun yang lalu tersebut bukan satu-satunya ledakan yang terjadi di alam semesta ini. Kurang lebih 15 abad yang lalu, terjadi pula sebuah ledakan yang sangat dahsyat, sebuah big bang dalam arti lain, bukan alam semesta yang meledak, namun kehidupan sosial yang "meledak". Sebuah ledakan sosial yang membawa manusia sebagai penghuni alam semesta dari kegelapan menuju cahaya (minadzdzulumaati ilannuur) yang dicetuskan oleh seorang nabi yang ummi (buta huruf) dari wilayah gurun yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Penulis menyebutkan sebagai Big Bang jilid dua karena telah terjadi peristiwa yang sangat dahsyat, sebuah perubahan tatanan sosial yang amat luar biasa, orang-orang dari wilayah gurun yang amat tandus, yang dikenal sebagai Badui yang terbelakang, yang barangkali keberadaannya pun hampir dianggap tidak ada, mampu memorakporandakan dua kekuatan besar saat itu yaitu Romawi dan Parsi. Dua Negara adidaya penjajah yang sebelumnya tidak terkalahkan selama ratusan tahun tersebut, ternyata mampu ditaklukkan oleh umat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad dengan waktu yang amat singkat. Sebuah komunitas manusia yang dulunya dikenal sebagai masyarakat yang buta huruf tersebut merevolusi dirinya menjadi penemu dan pengembang ilmu pengetahuan di dunia. Melahirkan banyak ilmuwan yang menjadi guru bagi manusia-manusia lain, termasuk juga dalam bidang seni dan kebudayaan. Tengoklah semisal kisah Tarzan yang sangat terkenal, ternyata diadopsi dari karangan Ibnu Tufail (Hay bin Yakdhon), Romeo and Julliet-nya shakespear ternyata diambil dari kisah Kain dan Laila. Orang-orang yang dulunya dianggap barbar dan hidup dari merampok ini juga mengubah dirinya menjadi saudagar-saudagar besar, sehingga sistem ekonominya dikutip oleh para ilmuwan Barat. Lihatlah bagaimana Bapak Ekonomi Barat Adam Smith (1776 M) dalam bukunya yang sangat terkenal The Wealth of Nation yang menjadi pegangan kaum mazhab ekonomi klasik, banyak mengutip buku Al-Amwal-nya Abu Ubaid (838 M). Belum lagi kalau kita sebutkan satu per satu, begitu banyak penemuan dalam berbagai bidang yang diklaim sebagai datang dari barat ternyata banyak diambil para ilmuwan, seniman, dan budayawan Muslim. Inilah barangkali sebuah Big Bang jilid dua yang terjadi akibat lahirnya sebuah ajaran yang maha tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya (Al Islamu ya'walaa yu'laa 'alaih), yang datangnya dari Allah dan disampaikan oleh sang pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil 'alamin) Nabi Muhammad saw. Ajaran Islam yang luar biasa ini begitu cepat menyebar. Kurang dari satu abad sudah masuk ke lebih dari setengah dunia pada zamannya. Penyebaran ke timur sudah sampai ke Tiongkok terbukti dengan adanya kuburan sahabat Nabi di Cin Chiang. Ke Barat sudah sampai ke perbatasan Prancis, sedangkan ke utara dan selatan sudah sampai ke Rusia dan Afrika. Ada tiga hal utama yang memungkinkan ledakan besar dalam bidang sosial itu terjadi. Pertama, sumber ajaran Islam adalah wahyu, bukan semata-mata pikiran manusia. Dengan bersumber kepada wahyu yang datangnya dari Allah, segala tindakan Muhammad saw merupakan manifestasi dan firman tuhan yang tidak mungkin salah. Kedua, Muhammad saw. menjadikan masjid sebagai markas untuk membina umat, sehingga setiap kali berhenti di suatu tempat Rasulullah selalu berupaya mendirikan masjid. Masjid di zaman Rasulullah adalah pusat berbagai kegiatan, termasuk dalam bidang sosial dan ekonomi selain tentunya yang utama sebagai tempat ibadah. Ketiga, Muhammad saw. menjadikan dirinya sebagai uswah (teladan umat) sehingga ketika itu merujuk dan meneladani Rasulullah dalam berbagai hal. Mungkinkah terjadi kembali big bang yang mampu membawa manusia khususnya umat Islam ke luar dari berbagai keterpurukan saat ini? Bangsa Indonesia seharusnya mampu untuk menjawab tantangan tersebut. Kita mempunyai potensi untuk itu, setidaknya untuk memperbaiki bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim. Bangsa Indonesia dianugerahi Allah dengan penduduknya yang mayoritas memeluk Islam. Sebagai orang yang beriman kita percaya bahwa Alquran datangnya dari Allah berisi petunjuk dan penjelasan dari petunjuk-petunjuk tersebut dan juga sebagai pembeda yang hak dan yang batil (Hudallinnasi wa bayyinaati minal hudaa wal furqon). Semua isi Alquran adalah untuk kita ikuti karena kita yakin seluruh isinya adalah kebenaran karena datangnya dari sang Mahabesar yang tidak mungkin salah. Kita pun memiliki banyak masjid yang bisa dijadikan tempat pembinaan umat yang merujuk kepada Alquran dan meneladani Rasulullah yang merupakan manifestasi dari isi Alquran yang kita lihat di dalam hadis. Di Indonesia jumlah masjid saja (di luar surau, tajug, mushola dll. mencapai 600.000 buah. Namun sayang, dari jumlah sebanyak itu baru sekitar 40.000 buah masjid saja yang menyelenggarakan TPA/TKA (taman kanak-kanak Alquran/taman pendidikan Alquran) apalagi yang melakukan pembinaan Alquran terhadap para orang tua sejenis TAO (taman pendidikan orang tua) misalnya. Kalaulah seluruh Masjid yang ada di Indonesia itu difungsikan sebagai pesantren, kita bisa membayangkan betapa banyak umat Islam di Indonesia yang akan betul-betul mengerti isi Alquran untuk selanjutnya berusaha mengamalkannya. Kita tidak perlu membayangkan di "pesantren" tersebut berjejer pondok-pondok megah, kolam, dan berbagai sarana pendidikan lainnya, tapi yang penting adalah fungsinya. Dengan mengkaji Alquran, hadis, dan Sirah Nabawiyah secara rutin setiap ba'da Subuh dan/atau ba'da Magrib misalnya, akan lahir banyak "pesantren modern" dari masjid-masjid di sekitar kita. Ini adalah tantangan besar bagi kita, kalaulah Alquran sudah menjadi sumber dari segala sumber yang kita rujuk, Rasulullah sudah menjadi suri teladan bagi kita, masjid sudah bisa betul-betul dimakmurkan, menjadi pusat kegiatan umat dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dll. Sepatutnyalah umat Islam menjadi Khairu Ummah (umat yang terbaik) dan tidak ada kekuatan makhluk mana pun yang akan mampu membendung terjadinya big bang jilid tiga. Wallahu a'lam bishawab.*** Penulis, Pimpinan Sanggar TaQua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar